
Suatu hari di bulan Juni. Hari itu tepat tanggal 4 Juni 2010, hari Jumat.
Bangun pagi di pukul 07:00 am menerawang dan hampa, seketika kehidupanQ berubah, tak berputar dan berhenti begitu saja. aQ hanya saat itu, aku mati saat itu namun aku masih hidup karena detak jantungku, deru nafasku masi dapat aku rasakan. Tepat di hari itu, sehari setelah peristiwa memilukan untuk diriku. Tepat di hari itu aku bangun dengan perih yang menyayat dan luka yang teriris dalam. Tepat di hari itu aku tak sanggup berkata banyak. Dan tepat di hari itu hubunganku dengan mamaku menjadi hubungan yang luar biasa. Tak banyak yang terlintas dan terpikirkan olehku di hari itu. Yang pertama aku lakukan hanya menangis berteriak sekeras-kerasnya dengan muka yang tertutup oleh bantal. Aku luka...ya sangat terluka. Entah bagaimana menggambarkan diriku dihari itu. Satu hal yang terlintas hanyalah berbicara dengan seseorang yang paling aku cintai di dunia ini. Ibuku, seorang wanita tangguh yang menjadi Tuhan untukku di dunia ini. Aku menelponnya dengan tangan gemetar, dengan tangisan yang tak dapat aku elakkan begitu saja.
Kata pertama yang beliau katakan di pagi itu adalah "Ada apa anakku sayang?? Bagaimana kabarmu di pagi ini??". Sebuah kalimat yang makin membuatku porak poranda, aku berpikir bahwa dirinya tau kegelisahan diriku di pagi ini. Aku bercerita semuanya dengan isak tangis yang luar biasa, beliau pun menangis karena merasakan aku tersakiti. Beliau menenangkan dan menyemangati di saat yang bersamaan. Aku memang tidak bisa berpikir logis saat itu, tapi tak ada yang mampu membuatku tenang kecuali suara mamaku. Hanya pada ibuku aku mampu mencurahkan semua rasa yang aku rasakan.
Hanya pada ibuku aku mendapatkan ketenangan yang tulus. Hanya ibuku yang mencintaiku dengan tulus. Tanpa alasan trauma, tanpa alasan terkekang, tanpa alasan aku pernah menyakitinya. Hanya ibuku yang menerimaku di saat terburuk dari hidupku. Hanya ibuku yang memelukku dengan tulus. Hanya ibuku yang tak memdendam sedikitpun karena aku mengecewakannya.
Suatu pagi yang berjalan hening. Tak banyak canda yang keluar dari bibir kami hari itu. Beliau hanya mendengar tangisan perihku tanpa ingin terus bertanya. Setelah kurasa cukup bercerita kepada beliau, aku menutup telpon itu dan memandang cermin besar di depan wajahku. Hanya ibuku yang mengenalku dengan segala perihku. Bahkan aku pun tak mengenal diriku sendiri setelah aku pandangi wajah manusia di cermin itu. Manusia yang terhanyut dalam titik terendah dalam hidupnya. Dan kembali dihidupkan dengan ketulusan seorang ibu........
Bangun pagi di pukul 07:00 am menerawang dan hampa, seketika kehidupanQ berubah, tak berputar dan berhenti begitu saja. aQ hanya saat itu, aku mati saat itu namun aku masih hidup karena detak jantungku, deru nafasku masi dapat aku rasakan. Tepat di hari itu, sehari setelah peristiwa memilukan untuk diriku. Tepat di hari itu aku bangun dengan perih yang menyayat dan luka yang teriris dalam. Tepat di hari itu aku tak sanggup berkata banyak. Dan tepat di hari itu hubunganku dengan mamaku menjadi hubungan yang luar biasa. Tak banyak yang terlintas dan terpikirkan olehku di hari itu. Yang pertama aku lakukan hanya menangis berteriak sekeras-kerasnya dengan muka yang tertutup oleh bantal. Aku luka...ya sangat terluka. Entah bagaimana menggambarkan diriku dihari itu. Satu hal yang terlintas hanyalah berbicara dengan seseorang yang paling aku cintai di dunia ini. Ibuku, seorang wanita tangguh yang menjadi Tuhan untukku di dunia ini. Aku menelponnya dengan tangan gemetar, dengan tangisan yang tak dapat aku elakkan begitu saja.
Kata pertama yang beliau katakan di pagi itu adalah "Ada apa anakku sayang?? Bagaimana kabarmu di pagi ini??". Sebuah kalimat yang makin membuatku porak poranda, aku berpikir bahwa dirinya tau kegelisahan diriku di pagi ini. Aku bercerita semuanya dengan isak tangis yang luar biasa, beliau pun menangis karena merasakan aku tersakiti. Beliau menenangkan dan menyemangati di saat yang bersamaan. Aku memang tidak bisa berpikir logis saat itu, tapi tak ada yang mampu membuatku tenang kecuali suara mamaku. Hanya pada ibuku aku mampu mencurahkan semua rasa yang aku rasakan.
Hanya pada ibuku aku mendapatkan ketenangan yang tulus. Hanya ibuku yang mencintaiku dengan tulus. Tanpa alasan trauma, tanpa alasan terkekang, tanpa alasan aku pernah menyakitinya. Hanya ibuku yang menerimaku di saat terburuk dari hidupku. Hanya ibuku yang memelukku dengan tulus. Hanya ibuku yang tak memdendam sedikitpun karena aku mengecewakannya.
Suatu pagi yang berjalan hening. Tak banyak canda yang keluar dari bibir kami hari itu. Beliau hanya mendengar tangisan perihku tanpa ingin terus bertanya. Setelah kurasa cukup bercerita kepada beliau, aku menutup telpon itu dan memandang cermin besar di depan wajahku. Hanya ibuku yang mengenalku dengan segala perihku. Bahkan aku pun tak mengenal diriku sendiri setelah aku pandangi wajah manusia di cermin itu. Manusia yang terhanyut dalam titik terendah dalam hidupnya. Dan kembali dihidupkan dengan ketulusan seorang ibu........
nice post..!
ReplyDelete